Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM
Address
304 North Cardinal
St. Dorchester Center, MA 02124
Work Hours
Monday to Friday: 7AM - 7PM
Weekend: 10AM - 5PM

“Kenapa sih anak susah sekali diajak belajar?”
Pertanyaan seperti ini mungkin pernah terlintas di benak banyak orang tua. Baru membuka buku beberapa menit, anak sudah mulai gelisah. Baru diminta mengerjakan beberapa soal, mereka ingin bermain atau melakukan kegiatan lain.
Sebelum langsung menganggap anak malas belajar, ada baiknya kita melihat dari sudut pandang yang berbeda. Mungkin bukan anaknya yang tidak suka belajar, tetapi cara belajarnya yang belum sesuai dengan kebutuhan mereka.
Anak pada dasarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar. Mereka senang mencoba, bertanya, bergerak, bermain, dan menemukan sesuatu yang baru. Karena itu, proses belajar tidak harus selalu berlangsung dengan duduk diam dan mengerjakan banyak soal.
Berikut 5 cara membuat belajar menjadi lebih menyenangkan yang bisa diterapkan orang tua di rumah.
Salah satu cara paling sederhana untuk membuat anak tertarik belajar adalah dengan memasukkan unsur permainan.
Misalnya, ketika belajar matematika, jangan hanya memberikan lembar soal. Ajak anak bermain tebak angka, menghitung benda di sekitar rumah, menyusun angka, atau menggunakan permainan edukatif seperti domino perkalian.
Ketika belajar terasa seperti permainan, anak biasanya lebih mudah terlibat karena mereka tidak merasa sedang menghadapi aktivitas yang “serius”.
Belajar tetap berlangsung, tetapi suasananya menjadi lebih santai dan menyenangkan.
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa anak bisa sangat fokus ketika melakukan sesuatu yang mereka sukai?
Anak yang menyukai dinosaurus mungkin akan lebih tertarik belajar berhitung menggunakan gambar dinosaurus. Anak yang menyukai luar angkasa mungkin akan lebih bersemangat membaca cerita tentang planet dan roket.
Manfaatkan ketertarikan tersebut sebagai pintu masuk menuju pembelajaran.
Misalnya, daripada berkata:
“Ayo belajar matematika.”
Cobalah mengatakan:
“Hari ini kita punya misi menghitung jumlah planet!”
Kalimat sederhana seperti ini dapat membuat aktivitas belajar terasa seperti sebuah petualangan.
Anak memiliki rentang perhatian yang berbeda-beda. Memaksa mereka belajar dalam waktu yang terlalu lama justru dapat membuat mereka semakin kehilangan minat.
Tidak harus berjam-jam. Sesi belajar yang singkat tetapi fokus sering kali lebih menyenangkan daripada belajar terlalu lama dalam kondisi anak sudah lelah dan bosan.
Orang tua bisa membuat beberapa sesi pendek dengan jeda di antaranya. Setelah menyelesaikan satu aktivitas, berikan waktu untuk bergerak, bermain sebentar, minum, atau sekadar berbincang.
Tujuannya bukan membuat anak belajar sebanyak mungkin dalam satu waktu, tetapi membantu mereka membangun pengalaman positif terhadap kegiatan belajar.
Anak juga akan lebih bersemangat ketika mereka merasa memiliki kendali atas aktivitas yang dilakukan.
Cobalah memberikan beberapa pilihan sederhana.
Misalnya:
“Hari ini mau mengerjakan teka-teki matematika atau menggambar dulu?”
Keduanya tetap merupakan aktivitas yang edukatif, tetapi anak diberi kesempatan menentukan pilihan.
Hal kecil seperti ini dapat membuat anak merasa lebih dihargai dan dilibatkan dalam proses belajarnya.
Namun, tetap berikan batasan yang jelas. Anak boleh memilih di antara pilihan yang sudah disiapkan, bukan menentukan apakah mereka mau belajar atau tidak.
Buku dan lembar kerja tetap memiliki tempat penting dalam proses pembelajaran. Namun, tampilan dan cara penggunaannya juga dapat memengaruhi ketertarikan anak.
Gunakan media belajar yang memiliki ilustrasi menarik, aktivitas interaktif, teka-teki, permainan, atau cerita yang sesuai dengan usia mereka.
Misalnya, workbook tematik dapat membuat anak merasa sedang mengikuti sebuah cerita atau petualangan, bukan sekadar menyelesaikan kumpulan soal.
Di sinilah orang tua dapat memilih media yang sesuai dengan karakter dan kebutuhan anak. Tidak perlu selalu mencari media yang paling rumit—yang penting adalah mampu membuat anak aktif berpikir dan menikmati prosesnya.
Ketika anak menolak belajar, respons pertama orang tua terkadang adalah memaksa.
“Sudah, belajar dulu!”
“Jangan main terus!”
“Kalau tidak belajar, nanti tidak pintar!”
Padahal, semakin sering belajar dikaitkan dengan tekanan, semakin besar kemungkinan anak memandang belajar sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan.
Cobalah mengubah pendekatan.
Alih-alih memulai dengan perintah, mulailah dengan rasa ingin tahu:
“Kira-kira kamu bisa menemukan jawabannya?”
Atau:
“Yuk, kita coba tantangan ini bersama.”
Perubahan kecil dalam cara kita berbicara dapat membuat suasana belajar menjadi jauh lebih positif.
Pada akhirnya, tujuan orang tua bukan hanya membuat anak menyelesaikan sebanyak mungkin halaman buku.
Yang jauh lebih penting adalah membantu anak memahami bahwa belajar merupakan sesuatu yang menyenangkan dan bermanfaat.
Ketika anak bermain puzzle, mereka belajar memecahkan masalah. Ketika membuat karya, mereka belajar berkreasi. Ketika bermain permainan matematika, mereka belajar berhitung. Ketika membaca cerita, mereka mengembangkan bahasa dan imajinasi.
Jadi, ketika anak berkata, “Aku nggak mau belajar!”, mungkin sudah waktunya kita bertanya:
“Bagaimana kalau cara belajarnya yang kita ubah?”
Karena belajar tidak harus selalu serius. Belajar bisa dilakukan sambil bermain, bereksplorasi, dan berkarya—di mana pun dan kapan pun.
Nahla Craft menghadirkan berbagai permainan edukatif dan workbook yang dirancang untuk membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan bagi anak.
Temukan aktivitas yang sesuai dengan minat anak dan jadikan setiap momen belajar sebagai kesempatan untuk belajar, bermain, dan berkarya dengan penuh cinta.